Wednesday, December 12, 2007

Ordo Pengkhotbah (OP)

Ordo Pengkhotbah—Ordo Praedicatorum—juga sering dipanggil Ordo Dominikan, didirikan oleh Santo Dominikus de Guzman, di Prancis tahun 1216. Ordo ini didirikan dengan maksud memberantas ajaran sesat Albigensians yang berkembang pesat di Eropa. Ajaran ini percaya akan adanya dua Tuhan: yang baik dan yang jahat. Ajaran ini menyebarkan kebencian akan materi dan juga sakramen. Materi dinilai sebagai sesuatu yang jahat. Dengan pemikiran ini, para pemimpin mereka sungguh hidup bermati raga, berlawanan dengan para pemimpin Gereja saat itu yang kebanyakan hidup dalam kemewahan. Albigensians menarik simpati banyak rakyat kecil di Eropa. Ajaran ini semakin sulit diberantas karena pada saat itu, para imam belum biasa berkhotbah. Khotbah hanya diperbolehkan untuk para Uskup yang jumlahnya terbatas.

Untuk menjawab tantangan jaman tersebut, Santo Dominikus berinisiatif untuk melakukan sesuatu yang baru, membentuk kelompok para imam yang boleh berkhotbah di mana saja. Ia memandang perlu adanya para pengkhotbah yang dipersiapkan dengan baik, disiplin dan mau hidup sederhana. Para imam Dominikan diharapkan bisa menjadi pengkhotbah yang dapat pergi kemana pun di mana mereka diperlukan. Sejak awal, mereka berjuang untuk menyebarkan Sabda Kebenaran di tempat-tempat yang penuh bahaya dan tantangan. Mereka juga diutus untuk menjawab tantangan hidup studi yang berkembang pesat di Eropa dengan bertumbuhnya universitas-universitas baru. Sejak awal didirikan, para imam Dominikan mengajar di berbagai pusat pendidikan Eropa seperti Sorbonne, Oxford, Toulouse, Bologna, dll.

Persaudaraan Pengkhotbah

Hidup dalam persaudaraan sejati, yang sehati dan sepikiran menuju Allah adalah tujuan pertama hidup komunitas pengkhotbah. Namun demikian persaudaraan ini tidak berhenti dengan menikmati kehadiran satu dengan yang lain. Seperti komunitas para Rasul, komunitas pengkhotbah berusaha menemukan Allah yang menang atas dosa dan maut secara bersama dan mewartakannya pada umat Allah. Hidup seorang Dominikan dikonsekrasikan untuk “berbicara dengan dan tentang Allah.” Dalam persaudaraan pengkhotbah ini kasih Allah menjadi nyata, dan hal ini memperkuat komitmen untuk terus melayani Allah secara selibat. Hidup komunitas juga penting dalam usaha mencari kebenaran. Usaha ini menjadi usaha bersama, di mana setiap orang yakin bahwa tidak ada seorang pun yang mempunyai monopoli atas kebenaran. Setiap orang selalu dapat memberikan pencerahan pada yang lain. Hidup Ordo Dominikan, oleh sebab itu, selalu dibangun atas dasar musyawarah untuk mencari kebenaran bersama.

Santo Dominikus juga melihat studi sebagai suatu bentuk spiritualitas. Sejak awal ia mengirim para pengikutnya yang pertama ke pusat-pusat studi Eropa untuk mewartakan Sabda sekaligus menimba ilmu. Santo Dominikus sendiri membuat peraturan di mana para pengikutnya diwajibkan terus menerus mempelajari, mendalami dan menghidupi Sabda. Hal ini dihidupi secara serius oleh pengikut-pengikutnya, seperti Santo Tomas Aquinas, sebagai Doktor Gereja yang ajarannya selalu memperkaya refleksi teologi, Santo Raymond Penyafort, pelindung para ahli hukum Gereja, atau Santo Paus Pius V, Paus yang mengemban tugas Konsili Trente. Di abad ke 20 ini, Ordo Dominikan melahirkan pemikir-pemikir Gereja yang memberi wawasan baru dalam hidup mengereja, seperti JM. Lagrange yang mendirikan pusat studi Kitab Suci di Yerusalem, Anawati yang mempelopori dialog dengan Islam, Yves Congar yang menekankan pentingnya Roh Kudus dan peranan awam dalam Gereja.

Dalam perkembangan selanjutnya, karisma studi ini dijalankan oleh para Dominikan dengan cara yang lebih beragam. Selain menekankan pentingnya memperdalam ilmu-ilmu gerejawi, para pengikut Santo Dominikus juga terlibat dalam disipline ilmu lainnya. Bidang sosial-politik diperkaya oleh kehadiran Bartolome de las Casas dan Montesino, yang menjadi tokoh pembebasan perbudakan orang-orang Indian di Amerika Latin. Jejak mereka saat ini diikuti oleh banyak anggota Ordo Dominikan yang bekerja dalam bidang ini termasuk Bapak Teologi Pembebasan, Gustavo Guiterrez. Bidang ilmu pengetahuan alam diperkaya oleh kehadiran Santo Albertus Magnus, ahli biologi dan zoology yang kemudian diangkat sebagai santo pelindung para ahli ilmu pengetahuan alam. Dominikan juga bekerja dalam bidang kesenian. Beato Angelico, misalnya, adalah pelukis abad pertengahan yang karyanya masih dikagumi banyak seniman sampai saat ini. Seorang Dominikan, dengan demikian, diharapkan mampu menerapkan dan melihat relevansi Sabda dalam berbagai aspek kehidupan.

Santo Dominikus mendapat julukan, saudara yang selalu gembira. Walaupun ia mengalami tantangan yang begitu banyak, bahkan dengan nyawanya yang terancam, Santo Dominikus tetap penuh pengharapan. Ia demikian, karena lewat doa dan studinya, ia menemukan bagaimana Allah bekerja secara nyata dalam hidup manusia. Doa dan studi menjadi mata air pengharapan dan kegembiraan. Persaudaraan pengkhotbah yang dibangun dalam doa dan studi pada akhirnya harus membuat seorang Dominikan menjadi pelayan umat Allah yang efektif. Ia diharapkan terus “berkontemplasi dan membagikan buah kontemplasinya.” Doa dan studi tidak boleh hanya berhenti demi keselamatan jiwa pribadi, tapi harus menjadi awal penyelamatan banyak jiwa. Oleh sebab itu, hidup seorang Dominikan dikonsekrasikan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Ia harus mampu pergi ke mana pun ia diperlukan. Saat ini Dominikan hadir di 104 negara.

Tahap-tahap Formasi

Masa Pra-Novisiat: selama satu sampai tiga tahun sebelum Novisiat, para calon Dominikan dipersiapkan untuk mematangkan kepribadiannya di Filipina dengan beberapa bulan persiapan bahasa Inggris di Pontianak.

Masa Novisiat selama satu tahun di Manaoag, Filipina. Dalam tahap ini para novis dituntun untuk hidup dalam keheningan doa dan unsur-unsur dasar hidup membiara Dominikan lainnya.

Masa Post-Novisiat di Manila, Philippina. Untuk beberapa tahun, para frater Dominikan diajak untuk menemukan dan menghidupi hidup dan misi Dominikan. Mereka menjalani pendidikan filsafat, teologi dan ilmu-ilmu lainnya bersamaan dengan pelatihan-pelatihan yang bisa berguna untuk pelayanan mereka. Masa ini memuncak dengan perayaan kaul kekal yang disusul dengan Imamat.


Apabila anda tertarik untuk menjadi seorang Dominikan bisa menghubungi saya,
Rm. Adrian Adiredjo, OP
adrianadiredjoop@yahoo.com

The One and the Ninety Nine

Matthew 18:12-14

Where do you think you belong? To the ninety nine, or to the one lost sheep?

Whatever your answer is, you are blessed!

You must feel blessed to belong to the one for the Lord is really going out of his way, trying to find you!

Isn’t it very heartwarming? The Lord leaves the ninety nine, just for the sake of you!

How many of us feel that we belong to no one? How many of us feel so lonely? How many of us feel that our sins are unforgivable? How many of us feel that we are rejected? How many of us feel that we are just no body?

If you feel this way, you should be happy, because the Lord is in search of you.
As much as the Lord never looses hope in us, we should never loose hope in ourselves!

Now, if you think you belong to the ninety-nine, be happy too! You too are blessed!
You belong to the Lord. You are just at the right place.

If you think you belong to the ninety-nine, you have no reason to be envious of the one, because once, you too were like the one. Who among you has never failed? Anyone? All of us always have experienced failure. We have experienced sinning. We have experienced getting lost.

If you think you belong to the ninety-nine, you have no reason to be proud, because, it is not because of your own goodness that you belong to the ninety nine. Everything, after all, is because of God’s grace, because first of all, God has enabled us to respond to the invitation to a grace-filled life.

If you now feel good about your life, about your relationship with God, it is because the Lord has won you, and led you back to the flock, back to the Church.

If you think you belong to the ninety-nine, you have no reason to be sad. You might sometimes think the Lord has forgotten you. You might think the Lord has left you because the Lord is busy with the one. Indeed sometimes we wonder why the Lord seems to bless more those who are less faithful. Has he left us, although we always try to follow His way? Does he take us for granted? No, the Lord has never left us alone! The Lord keeps us in the company of one another. We have found one another, and we have to take good care of one another. We find the Lord in the person of our brothers, our sisters, our friends.

The Lord treats us in a very special way because He loves us, he treats each one of us as a VIP. So, whether you belong to the one, or you belong to the ninety nine, the Lord is always with you, and will always be with you.

In this advent season, we thank God for all his goodness to each one of us. If you belong to the one, we pray that you may soon be brought back to the flock. If you belong to the ninety nine, we pray that you may take good care of each other, as much as the Lord has taken good care of you. We pray that you too may find the one who strayed. We pray that we could be a blessing for one another.

Have a meaningful Advent! Hope all of us will belong to the ninety nine.